Sebelumnya saya sudah mengulas buku 'The Last Song' ini. Sebelum lanjut baca postingan ini, sebaiknya baca dulu Review Novel 'The Last Song' by Nicholas Sparks. Jadi kalian ada gambaran tentang bukunya.

 ~~~~~

Judul Film : The Last Song
Tahun Rilis : 2010
Berdasarkan : Novel 'The Last Song' by Nicholas Sparks
Pemain :

~~~~~

Mengutip artikel di wikipedia tentang film ini, banyak kritikus film yang memberi rating rendah. Dan sebagian besar pendapat mereka memang apa adanya, dan saya setuju. Lebih lengkapnya mengenai sinopsis film kalian bisa cek di wikipedia, karena di postingan ini hanya akan berisi pendapat pribadi.

~~

Pertama, aku mutusin nonton film ini karena suka banget sama novelnya. Awal film oke-oke saja. Ada beberapa adegan yang berubah dari novelnya. Ada yang menurutku oke saja perbuhannya, tidak terlalu mengubah alur. Tapi ada juga yang aneh hingga alurnya berantakan.
Beberapa adegan yang menurutku berpotensi mengubah plot dan bikin jadi aneh.

1.  Will yang langsung blak-blakan kenalan dengan Ronnie di pertemuan pertama mereka. Padahal di novelnya, butuh waktu 3 pertemuan sampai akhirnya mereka kenalan. Alasan Will untuk tertarik dengan Ronnie dalam novel juga masuk akal dan lebih logis. Seperti adegan Ronnie yang menolong anak kecil di tengah keributan, Rinnie yang kabur dari ayahnya disaksikan Will, atau Ronnie yang over protektif dengan telur kura-kuranya. Hal itu yang bikin Will tertarik dengan Ronnie, dan tidak ditampilkan dalam film. Sayang sekali. Dalam film, awal kisah romansa Will dan Ronnie terlalu klise. 

2. Pertemanan Ronnie dan Blaze juga seperti tidak ada nyawa dalam film ini. Hal ini juga berimbas dengan peran Marcus yang terkikis habis. Di novel, kita bisa merasakan betapa Marcus sangat menginginkan Ronnie. Namun di novel tidak ada. Marcus hanya muncul dalam tiga adegan. Sangat disayangkan. Andai kata susah menampilkan semua adegan Marcus seperti dalam buku karena film hanya terbatas 107 menit, mungkin lebih baik Marcus tidak dibuat bersinggungan dengan Ronnie. 

Dan yang paling tidak habis pikir, adegan pencurian di toko kaset benar-benar hanya tempelan. Tidak ada penyelesain dari kasus ini. Blaze tidak pernah mengungkit ini lagi, bahkan Ronnie. Jadi apa gunanya adegan ini ditampilkan?
Padahal di bukunya kasus ini tuntas.

3. Kebenaran dari kebakaran yang terjadi di gereja. Dalam film, Scott mengakui sendiri kesalahannya di depan Stave. Dan kayak gak tuntas gitu. Kalau di novel, jelas. Ada Marcus yang memang dalang kebakaran itu, dan Marcus di penjara. Sedangkan Scott memang sedang sial aja terlibat sama permainan Marcus. Tapi di film ini, Stave yang dicurigai membakar gereja. Padahal sebenarnya Scott. Lalu selesai. Gak ada tindakan lebih lanjut.

4. Ini gak terlalu berpengaruh sih. Cuman agak ganggu. Tentang Will yang memang sejak awal udah ngaku mau kuliah di Colombia pada Ronnie. Jadi kayak kurang gitu konfliknya. Konflik orang tua Will dengan Ronnie juga jadi gak ada. Karena di novel, sejak awal Will bilang akan kuliah di eropa, jadi emosi tentang hubungan mereka dapat. Bayangin musim panas akan berakhir, maka mereka akan ldr-an. Buat mikir juga, apakah cinta mereka hanya sebatas cinta monyet liburan musim panas. 

5. Dan yang paling buat aku kecewa, Bobby Coleman dalam memerankan Jonah, tokoh favouriteku. Gak ada nyawa. Aku benar-benar gak dapat feelnya. Padahal aku udah antisipasi banget sama karakternya Jonah ini. Banyak adegan Jonah yang brilian dihilangkan. Yang paling parah sih ketika Jonah pasrah aja pulang ke New York dengan ibunya. Padahal Jonah sayang banget sama Steve. Di novel, Jonah bersikeras tinggal dengan Steve dengan logika-logika anak kecilnya. Sayang sekali sih ini.

~~~~

Terlepas dari poin-poin di atas, aku suka dengan karakter Steve di film. Greg Kinnear berhasil memerankan Steve dengan baik. 

Kesimpulannya, aku lebih suka baca novelnya daripada nonton filmnya. Mungkin karena aku terlalu memberikan ekspektasi tinggi pada film ini, karena aku suka banget sama novelnya. Tapi untungnya visual Liam Hemsworth sangat hot, jadi gak sia-sia 107 menitku.

But anyway, terlepas dari novelnya, alur film ini memang banyak bolongnya ya. Jadi masih objektif lah penilaianku. Mungkin mereka susah mewujudkan novel setebal 390 halaman dalam film berdurasi 107 menit, jadi masih ada banyak cacatnya dari segi alur.


~~~

So, itu lah pendapatku tentang film ini. Apakah kalian tertarik dengan film ini? Atau tertarik baca novelnya?